pertanyaan tentang aqidah syariah dan akhlak
OhSantri~ Soal tanya jawab Mata pelajaran ASWAJA atau Ke-NU-an kelas 8 (delapan) BAB I Materi Tentang Konsep Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Berikut ini soal tanya jawab yang kami maksud. Soal tanya jawab ASWAJA Kelas 8 (delapan) BAB I Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Kumpulan Materi ASWAJA MTs Semester Ganjil Dan Genap Untuk Kelas 8
25Juni 2020 - Updated on 26 Juni 2020. 0. Islam berakar kata dari "aslama", "yuslimu", "islaaman" yang berarti tunduk, patuh, dan selamat. Islam berarti kepasrahan atau ketundukan secara total Read more. Aqidah.
Dengandemikian secara sederhana diahami bahwa yang dimaksud dengan Syariah Islam adalah aturan kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dalam bentuk hukum-hukum Islam yang terkandung dalam Al Qur'an dan As Sunah yang terdiri atas (1) aspek Aqidah, (2) Aspek Ibadah dan (3) Aspek Muamalah atau hukum-hukum 'amaliyah (praktis).
dansesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yg beriman kepada jalan yang lurus." (Al-Haj 22:54) Aqidah, syariah dan akhlak pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Aqidah sebagai system kepercayaan yg bermuatan elemen-elemen dasar keyakinan,
pertama seseorang meminta kepada seorang wali yang masih hidup untuk mendo'akan-nya agar supaya allah subhanahu wata'ala memberi-nya rizqi yang banyak, disembuhkan dari penyakit-nya, atau memberi-nya hidayah & taufiq, dan lain sebagainya, maka jenis tawassul yang seperti ini diperbolehkan, sebagaimana ada sebagian sahabat yang meminta kepada
Site De Rencontre Francais Pour Mariage. ▪︎Aqidah, syariah, dan akhlak bagaikan suatu pohon, di mana aqidah merupakan akar, syariah merupakan batang dan akhlak adalah dedaunan. Syariah dan akhlak akan tumbang tanpa adanya aqidah yang mengakarinya. Aqidah mendasari syariah, dan syariah tanpa akhlak akan menjadi kezaliman. Bagaimana hubungan antara aqidah dengan ibadah dan akhlak seseorang? jika kita analogikan sebuah pohon, aqidah adalah akar, ibadah adalah batang, dan akhlak adalah buah atau bunganya. Andaikan kita ingin ibadah kita baik, maka milikilah aqidah yang kokoh dan jika kita ingin memiliki akhlak yang baik, kita harus melewati ibadah yang baik dan rutin. Apa yang dimaksud dengan aqidah dan syariah? Menurut Syaltut, syariah dan akidah merupakan satu sistim yang tidak dapat dipisahkan. Akidah merupakan dasar yang mendorong manusia untuk menjalankan syariah Tuhan, dan syariah adalah refleksi panggilan hati manusia yang berakidah. Apa perbedaan antara aqidah dan akhlak? Akidah Iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Akhlak Tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Apa fungsi aqidah dalam Islam? Aqidah Islam adalah landasan bagi seluruh ajaran Islam. 2. Aqidah Islam berfungsi untuk membentuk kesalehan seseorang di dunia, sebagai modal awal mencapai kebahagiaan di akhirat. 3. Aqidah Islam berfungsi menyelamatkan seseorang dari keyakinan-keyakinan yang menyimpang, seperti bid’ah, khurafat, dan lain sebagainya. Bagaimana hubungan antara ibadah dan akhlak? Jika ibadah adalah tujuan dari kehidupan kita, maka akhlak adalah pilar penopang tegaknya ibadah–ibadah kita,” ungkap Tgk Abd Razak yang juga kandidat doktor UIN Ar-Raniry ini. Berakhlak baik kepada sesama dilakukan dengan beberapa tingkatan. Apa hubungan aqidah dengan akhlak ibadah dan muamalah? Aqidah yang kuat akan mengantarkan ibadah yang benar, akhlaq yang terpuji dan muamalat yang membawa maslahat. Selain sebagai pondasi, hubungan antara aqidah dengan pokok-pokok ajaran Islam yang lain bisa juga bersifat resiprokal dan simbiosis. Apa yang dimaksud dengan syariah? Syariah komponen ajaran Islam yang mengatur tentang kehidupan seorang muslim baik dalam bidang ibadah habluminAllah maupun dalam bidang muamalah hablumminannas yang merupakan aktualisasi dari akidah yang menjadi keyakinannya. Jelaskan apa yang dimaksud dengan akidah? 2. Akidah bahasa Arab ةديقعلا, translit. al-aqīdah dalam istilah Islam yang berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah. Fondasi akidah Islam didasarkan pada hadits Jibril, yang memuat definisi Islam, rukun Islam, rukun Iman, ihsan dan peristiwa hari akhir. Apa itu syariah dan akhlak? Syariah adalah hukum dan aturan yang mengatur segala aspek kehidupan baik itu untuk Muslim maupun non-muslim seluruh manusia. Akhlak adalah tingkah laku sesorang yang didorong berdasarkan kesadaran untuk melakukan suatu perbuatan. Apa arti dari akidah dan akhlak? A- Pengertian Akidah Akhlak Dalam pengertian teknis artinya adalah iman atau keyakinan. Menurut istilah terminologi akidah ialah dasar-dasar pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber ajaran Islam yang wajib dipegang oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat. Apa perbedaan antara aqidah dan tauhid? Tepat, aqidah merupakan dasar atau landasan. Sedangkan tauhid merupakan wujud dari aqidah yakni dengan mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Tauhid sendiri dibagi menjadi 3, yakni Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Rububiyah. Jelaskan apa yang dimaksud dengan akhlak? Akhlak adalah tingkah laku yang dilakukan berulang kali. Akhlak dalam bahasa Arab berasal dari kata khuluk yang berarti tingkah laku, perangai, atau tabiat. Secara terminologi, akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh sesuatu keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan. Apa fungsi aqidah dan akhlak bagi kehidupan bermasyarakat? Aqidah dan Akhlak di islam itu sebagai eksistensi menusia sebagai mahkluk terhormat, sebagai mahkluk fitrahnya itu. Ajaran Aqidah dan Akhlak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ini adalah suatu bentuk kesempurnaan islam dengan titik pangkalnya pada tuhan dan akal manusia. Apa fungsi aqidah akhlak dalam kehidupan manusia? Aqidah akhlak mengajarkan manusia tidak hanya meyakini keimanan dalam diri namun juga membentuk perilaku yang diamalkan dalam kehidupan keseharian dengan berinteraksi sesama makhluk serta interaksi kepada Allah SWT. Apa fungsi dan pengaruh aqidah dalam kehidupan manusia? Aqidah memberikan pengetahuan darimana manusia datang, untuk apa hidup dan ke mana manusia akan pergi, sehingga kehidupan manusia akan lebih jelas dan lebih bermakna. Aqidah islam sebagai keyakinan akan membentuk perilaku bahkan mempengaruhi kehidupan seorang muslim. Menurut Anda manakah yang lebih penting antara ibadah dan akhlak? Allah SWT juga menganggap bahwa ibadah–ibadah ritual hakikatnya untuk diri sendiri, namun ibadah sosial seperti sedekah lebih disukai oleh Allah SWT. Jadi dalam konteks ini, akhlak lebih penting daripada ibadah. Jangan sampai banyak ibadah namun gak ada akhlak. Syukur-syukur rajin ibadah dan akhlaknya juga baik. Apa hubungan antara ibadah dan muamalah? Hubungan ibadah dan muamalah sudah bisa ditebak dalam kehidupan sehari-hari. Karna ibadah adalah Cara melaksanakan perintah Allah SWT sedangkan Muamalah adalah Ketetapan/ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Apa tujuan mempelajari ibadah akhlak? Tujuan mempelajari akhlak diantaranya adalah menghindari pemisahan antara akhlak dan ibadah atau bila kita memakai istilah menghindari pemisahan agama dengan dunia sekulerisme. Adakah hubungan antara ibadah akhlak dan muamalah? Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah. Muamalah bisa dijalankan dengan baik apabila seseorang telah memiliki akhlak yang baik. References Pertanyaan Lainnya1Apa saja yang termasuk kedalam hak asasi manusia?2Langkah langkah membuat background pada slide?3Hutan bentuk kerusakannya apa saja?4Apa yang dimaksud dengan satwa harapan Tuliskan 4 jenis satwa harapan?5Apa saja bentuk struktur sosial?6Apa yang dimaksud dengan shalat tahiyatul masjid?7Profesi apa saja yang berada di industri jasa keuangan?8Jelaskan perilaku apa saja yang mencerminkan seseorang yang beriman?9Apa saja unsur unsur sistem politik itu?10Apa yang dimaksud dengan manajemen dan mengapa manajemen diperlukan?
Banyak dari kita mengatakan bahwa adab dan akhlak selalu berkaitan dengan sikap dan perilaku seseorang. Ternyata anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Masih banyak orang salah mengartikan pengertian adab dan akhlak dalam pandangan mana seharusnya sebagai seorang Muslim kita sudah memiliki adab dan akhlak yang baik. Namun bagaimana cara kita beradab dan akhlak yang baik bila tidak memahami definisi sekaligus perbedaan keduanya?Bagaimana kedudukan adab dan akhlak di dalam Islam?Kategori manusia beradab dan berakhlak dalam perspektif Islam memiliki tafsiran yang berbeda. Seperti dilansir dari akun Youtube resmi Ustadz Adi Hidayat, Adi Hidayat Official, ia menjelaskan dua kata tersebut masih sangat sering disalahartikan kebanyakan orang. Adab dimaknai sebagai nilai kemuliaan yang didapatkan lewat proses pendidikan, belajar, kemudian membentuk peradaban. Maka dapat dikatakan bahwa syarat untuk mendapatkan adab atau peradaban bukanlah iman, tetapi proses mengapa sejak dulu kala, manusia memiliki peradaban yang silih berganti. Seperti peradaban Mesir, Mesopotamia, ataupun Yunani. Meskipun perlu diketahui bahwa orang-orang dalam peradaban tersebut bukanlah orang hanya itu, Ustadz Adi menambahkan bahwa saat ini kita mengenal peradaban di luar negeri seperti Jepang yang terkenal dengan budaya disiplin dan taat aturan. Saat mengunjungi negara tersebut, ia mengungkapkannya rasa kagumnya pada budaya disiplin yang tertanam pada tiap individu di kunjungannya, ia mengisahkan pengalamannya ketika melihat sebuah anting emas tergeletak di tempat penyeberangan jalan. Ia menyadari betapa menakjubkannya sikap dan perilaku orang-orang Jepang di sana. Tidak ada satu orang pun yang berniat mengambil anting tersebut, justru mereka tergerak untuk memindahkan barang jatuh itu agar lebih aman dan mudah ditemukan oleh pemiliknya yang itulah yang dapat dikatakan adab. Jika ingin mendapatkan adab, maka ukurannya bukan tingkat keimanan. Tentunya, manusia beradab bukan hanya dari negara muslim saja karena negara non-muslim juga bisa memiliki berbeda dengan akhlak, akhlak adalah nilai kemuliaan yang dihasilkan dari proses ibadah kepada Allah SWT. Makanya ada orang beradab tapi belum tentu berakhlak. Nilai ini adalah fitrah kehidupan karena diperoleh dari hasil beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ dengan itu, proses penciptaan manusia disebut khalaq’ sementara penciptanya disebut dengan khaliq’. Sehingga Allah SWT disebut sebagai Sang Khaliq sedangkan makhluk-Nya seperti manusia, jin, dan hewan merupakan khalaq. Hal ini sebagaimana tertulis dalam Al-Hijr ayat 28 yang mengatakan bahwa Allah berfirman kepada malaikat tentang penciptaan manusia dari seonggok tanah liat kering dan lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka dari itu, manusia bisa memperoleh akhlak yang tinggi melalui ibadah kepada Allah. Seperti contohnya akhlak yang dimiliki Baginda Nabi Muhammad SAW yang didasari oleh ibadah sepanjang hayat yang dijalankan dengan benar secara tidak langsung akan membentuk akhlak yang mulia. Hal ini yang otomatis akan menghindari orang beriman dari perbuatan munkar seperti meminum khamr dan mendekati zina. Lebih lanjut lagi, dengan beribadah salah satunya shalat, akhlak mulia dalam diri seseorang akan terbentuk. Umat muslim yang mendirikan shalat akan menjauhkan diri dari perbuatan munkar yang bersumber dari nafsu dan tertulis dalam firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 yang mana Allah memerintahkan manusia untuk membaca Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada Rasulullah dan dirikanlah shalat. Karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan suatu kekeliruan bila menganggap orang-orang Jepang sebagai manusia berakhlak. Menurut Ustadz Adi Hidayat, hal ini menjadi tanda kurangnya pengetahuan kita dalam memaknai adab dan akhlak itu sekalipun di sana memiliki budaya disiplin yang erat, namun aktivitas mungkar seperti mabuk dan zina sudah menjadi hal lumrah. Itu semua, tutur Ustadz Adi, bukanlah akhlak, melainkan juga contoh perbedaan adab dan akhlak dalam islamBagaimana Cara Membentuk Akhlakul Karimah?Kiai Haji Abdullah Gymnastiar atau lebih akrab disapa AA Gym mengatakan, persoalan akhlak selalu mewarnai kehidupan manusia dari masa ke masa. Dia menerangkan, berbicara mengenai pembentukan akhlakul karimah, setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki setiap Muslim1. Menjaga Diri Aman untuk Orang Lain Hal pertama yang ia tekankan adalah memastikan diri sendiri aman untuk orang lain."Pastikan ucapan dan perbuatan kita tidak membuat orang lain terganggu dalam bentuk apapun," tutur Aa Gym, dikutip dari tausiyah di kanal YouTube "Daily Blog Aa Gym".2. Menyenangkan untuk Orang Lain Hal kedua yang ia sampaikan adalah menjadi pribadi yang menyenangkan untuk orang lain. Maksudnya, dimanapun berada, usahakan untuk memberikan sikap yang baik pada orang lain. Usahakan untuk membuat orang lain senang, minimal dengan senyum, sapa, dan Bermanfaat Bagi Orang LainHal ketiga, jadilah orang yang bermanfaat. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak harus terus belajar agar hidup ini tambah manfaat. Puncaknya akhlak yang kita bangun tidak merugikan siapapun, selain itu juga menyenangkan dan penuh yang lebih penting? Adab atau akhlak?Di dalam Islam, adab lahir karena akhlak, dan akhlak terbentuk karena kita melaksanakan syariat Allah. Merujuk pada pernyataan Ustadz Adi Hidayat, bahwa akhlak adalah kemuliaan sikap, perilaku, dan perangai yang lahir karena ibadah yang benar kepada begitu, ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang baik. Dan setiap manusia yang bagus akhlaknya, maka akan terjaga adab dalam setiap perbuatannya. Sehingga dalam Islam itu sendiri, adab yang baik lahir dari Akhlakul Karimah yang terbentuk dari ibadah kepada mengaplikasikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari?Akhlak bersifat amat fundamental dalam Islam, karena misi utama Rasulullah diutus oleh Allah pun adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, mengingat kemuliaan seseorang ditentukan oleh kemuliaan akhlaknya. Begitu pun dengan sebuah sistem akan berjalan dengan baik bila diisi oleh orang-orang yang memiliki akhlak menerapkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari bisa dengan mulai memperhatikan etika sosial saat berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu hindari egoisme atau kecenderungan memuaskan diri sendiri atau golongan hingga lupa dan meremehkan kepentingan orang lain. Baca juga 12 tanya dan jawab tentang adab dan penyebab menurunnya kualitas adab dan akhlak seorang muslim?Namun sayangnya, penerapan adab dan akhlak saat ini seperti tergerus zaman dan menjadi sangat langka. Seakan-akan sudah hampir hilang dalam diri manusia. Seperti kasus seorang anak yang melawan orang tuanya atau pelajar yang menentang ini tidak hanya disebabkan oleh tidak adanya adab dan akhlak yang baik, tetapi karena kurangnya kesadaran manusia dalam beribadah kepada Allah. Padahal akhlak yang baik akan membantu membawa kebahagiaan seseorang hidup di dunia dan kebaikan datang kepada kita di dunia dan akhirat kecuali dengan berakhlak dan beradab yang baik. Disinilah peran semua pihak untuk bersinergi membangun kebiasaan-kebiasaan baik dalam hidup berumah tangga maupun dalam kerja sama semua elemen masyarakat dalam menciptakan lingkungan serta mendidik anak-anak kita untuk memiliki akhlakul karimah dan beradab yang apa yang disampaikan Ustadz Adi Hidayat dalam saluran Youtube miliknya, serta bagaimana contoh pentingnya kedudukan adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita salah menempatkan akhlak dan adab serta jangan jadikan keduanya untuk berbuat zalim kepada diri sendiri dan orang hanya dalam bersosial, adab dan akhlak juga perlu menjadi bekal dalam menuntut ilmu. Sesuai penjabaran yang dikatakan Ustadz Adi Hidayat, jangan sampai kita menjadi manusia yang berilmu namun tidak lanjut lagi, dengan pemahaman dan terbentuknya adab yang baik, kita bisa gunakan itu untuk terus meningkatkan keimanan dengan memperbaiki ibadah kita kepada Allah serta membentuk akhlak yang adab dan akhlak tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan adab yang baik dan akhlak mulia, kita bisa menjadi umat Muslim yang bernilai dan bermanfaat satu sama lain. Oleh karena itu, muli perbaiki adab kita dan tingkatkan keimanan untuk membentuk akhlakul karimah.
BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah Dalam agama Islam terdapat tiga ajaran yang sangat ditekankan oleh Allah dan Rasul-Nya, yang harus diamalkan dan dibenarkan dalam hati. Yaitu iman akidah, Islam syariat, dan ihsan akhlak. Tetapi sekarang-sekarang ini ada yang mengabaikan salah satu dari tiga hal ini. Sehingga kehidupannya menjadi jauh dari agama. Dasar ajaran Islam yang terdiri dari aqidah, syariah, dan akhlak sering sekali dilupakan keterkaitannya. Contohnya seseorang melaksanakan shalat, berarti dia melakukan syariah. Tetapi shalat itu dilakukannya untuk membuat kagum orang-orang di sekitarnya, berarti dia tidak melaksanakan aqidah. Karena shalat itu dilakukannya bukan karena Allah SWT, maka shalat itu tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri ataupun orang lain. Alhasil, dia tidak mendapatkan manfaat pada akhlaknya. Itulah yang menjadikan suatu perbuatan yang seharusnya mendapat ganjaran pahala, tapi malah menjadi suatu kesia-siaan karena tidak dilakukan semata-mata karena Allah. Penyusunan makalah ini, penulis berharap dapat menegaskan kembali mengenai kerangka dasar ajaran Islam yang terdiri dari Aqidah, Syari’ah, dan akhlak yang kian terlupakan. Di sini para penyusun akan menjelaskan tentang hubungan antara ketiganya, sehingga kemantapan seorang mukmin akan terjaga. Rumusan Masalah Bagiamana devenisi aqidah, syariah, dan akhlak ? Bagaimana hubungan aqidah , syariah, dan akhlak ? Bagaiamana keterkaitan antara akidah, syariah, dan akhlak ? Tujuan Penulisan Untuk mengetahui devenisi aqidah, syariah, dan akhlak. Untuk mengetahui hubungan aqidah , syariah, dan akhlak. Untuk menegetahui keterkaitan antara aqidah, syariah, dan akhlak. BAB II PEMBAHASAN Devenisi Aqidah , Syariah, Dan Akhlak Devenisi Aqidah menurut bahasa Arab etimologi berasal dari kata al-aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, dan ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan menurut istilah terminologi aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Devenisi syariah Secara etimologi syariah berarti aturan atau ketetapan yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, seperti puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh kebajikan. Syariat dalam istilah syar’i adalah hukum-hukum Allah yang disyariatkan kepada hamba-hamba-Nya, baik hukum-hukum dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi Saw dari perkataan, perbuatan dan penetapan. Devenisi akhlaq Akhlaq berasal dari bahasa arab, yaitu jama’ dari kata “khuluq” خلوق secara bahasa kata ini memiliki arti perangai atau yang mencakup diantaranya sikap, prilaku, sopan, tabi’at, etika, karakter, kepribadian, moral dll. Menurut istilah, akhlak artinya tingkah laku lahiriah yang diperbuat oleh seseorang secara spontan sebagai manifestasi atau pencerminan, refleksi dari jiwa , batin atau hati seseorang. Akhlak bukan saja merupakan mengatur hubungan antara sesame manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta sekalipun. [1] Hubungan Aqidah , Syariah, dan Akhlak. Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar diceritakan bahwa pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW, yang kemudian ternyata orang itu adalah malaikat Jibril, menanyakan tetang arti Iman Aqidah, Islam Syariat , dan Ihsan Akhlak. Dan dalam dialog antara Rasulullah SAW dengan malaikat Jibril itu, Rasulullah SAW memberikan pengertian tentang Iman, Islam, dan Ihsan tersebut sebagai berikut. Iman Aqidah Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat serta engkau beriman kepada kadar ketentuan Tuhan baik dan buruk. Islam Syariat Engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah jika engkau mampu pergi ke sana. Ihsan akhlak Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, tetapi jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia selalu melihat engkau. Ditinjau dari hadis di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan antar ketiganya sangat erat bagaikan sebuah pohon. Tidak dapat dipisahkan antara akar Aqidah, batang Syariat, dan daun Akhlak. Keterkaitan Antara Aqidah, Syariah, Dan Akhlak Hubungan aqidah dengan syariat Menurut Syekh Mahmud Syaltut ketika menjelaskan tentang kedudukan akidah dan syariah menulis Akidah itu di dalam posisinya menurut Islam adalah pokok yang kemudian di atasnya dibangun syariat. Sedang syariat itu sendiri adalah hasil yang dilahirkan oleh akidah tersebut. Dengan demikian tidaklah akan terdapat syariat di dalam Islam, melainkan karena adanya akidah; sebagaimana syariat tidak akan berkembang, melainkan di bawah naungan akidah. Jelaslah bahwa syariat tanpa akidah laksana gedung tanpa fondasi, namun demikian islam menyatakan bahwa hubungan antara keduanya merupakan suatu keniscayaan, yang artinya bahwa antara akidah dan syari’ah tidak bias sendiri-sendiri.[2] Jadi ajaran islam terdiri dari dua pokok , yakni pertama akidah/iman yang terdiri dari enam rukun iman, yang landasannya adalah dalil-daalil qath’i al-qur’an dan hadist mutawatir. Kedua, syari’ah/amal sholeh yang mengatur dua aspek kehidupan manusia yang pokok, yaitu mengatur hubungan manusia dengan Allah ibadah, dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya atau aktivitasnya dalam masyarakat muamalah.[3] dalah makna umum, yaitu agama Islam secara keseluruhan. Sebaliknya, jika syari’at disebut bersama aqidah, maka yang dimaksudkan adalah makna khusus, yaitu hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan dalam masalah agama yang bukan aqidah keyakinan. Dengan demikian, maka aqidah dan syari’at merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana telah diketahui bahwa iman itu meliputi keyakinan dan amalan. Keyakinan inilah yang disebut dengan aqidah, dan amalan ini yang disebut syari’at. Sehingga iman itu mencakup aqidah dan syari’at, karena memang iman itu, jika disebutkan secara mutlak sendirian maka ia mencakup keyakinan dan amalan. Hubungan Aqidah dengan Akhlak Akidah tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat berlindung di saat kepanasan dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik. Sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya merupakan layang-layang bagi benda yang tidak tetap, yang selalu bergerak. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau “ Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling bagus akhlaknya ”. HR. Muslim Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku akhlak seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah. Muhammad al-Gazali mengatakan, iman yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan akhlak yang buruk. Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan melahirkan perangai yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya iman. Orang yang berperangai tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang kehilangan iman. Beliau bersabda الحياء والايمان قرناء جميعا فاذا رفع احدهما رفع الاخر رواه الحكيم، Artinya ”Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilang pula yang lain”. HR. Hakim Kalau kita perhatikan hadits di atas, nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan bahwa tiap orang yang beriman pastilah ia mempunyai rasa malu; dan jika ia tidak mempunyai rasa malu, berarti tidak beriman atau lemah imannya. Aqidah dengan seluruh cabangnya tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat berteduh dari panasnya , matahari, atau untuk berlindung dari hujan, dan tidak ada pula buahnya yang dipetik . sebaliknya akhlak tanpa aqidah hanya merupakan bayang-bayang bagi benda yang tidak tetap dan selalu bergerak. Allah menjadikan keimanan aqidah sebagai dasar agama-Nya, ibadat syariah sebagai rukun tiangnya. Kedua hal inilah yang akan menimbulkan kesan baik kedalam jiwa dan menjadi pokok tercapainya akhlak yang luhur. Islam menganjurkan setiap individu untuk berakhlak mulia, dan menjadikannya sebagai kewajiban di atas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya. Atas dasar ini, agama tidak memberikan wejangan akhlak semata, tanpa didasari rasa tanggung jawab. Bahkan keberadaan akhlak, dianggap sebagai penyempurna ajaran-ajarannya. Karena agama itu, tersusun dari akidah dan perilaku. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda “Orang Mukmin yang sempurna imannya adalah yang terbaik budi pekertinya,” HR. Tirmidzi. Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak itu harus berpijak pada keimanan. Iman tidak cukup disimpan dalam hati, namun harus dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlak yang baik. Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku akhlak seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah. Hubungan syaraiah dan akhlak Sebagai bentuk perwujudan iman Aqidah, akhlaq mesti berada dalam bingkai aturan syari’ah Islam. Karena seperti dijelaskan diatas, akhlaq adalah bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan proses ibadah harus dilakukan sesuai dengan aturan mekanisme yang ditetapkan syariah, agar bernilai sebagai amal shalih. Syariah merupakan aturan mekanisme dalam amal ibadah seseorang mukmin/muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Melalui prantara syariah akan menghubungkan proses ibadah kita kepada Allah. Suatu amal diluar aturan mekanisme ibadah tidak bernilai sebagai amal shalih. Dan akhlaq menjadi sia-sia jika tidak berada didalam kerangka aturan syariah. Jadi, syaria adalah syarat yang akan menentukan bernilai tidaknya suatu amal ibadah. Syariat menjadi standard ukuran yang menentukan apakah suatu amal-perbuatan itu benar atau salah. Ketentuan syariah merupakan aturan dan rambu-rambu yang berfungsi membatasi, mengatur dan menetapkan mana perbuatan yang mesti dijalankan dan yang mesti ditinggalkan. Ketentuan hukum pada syariat pada asasnya berisi tentang keharusan, larangan dan kewenangan untuk memilih. Ketentuan ini meliputi wajib, sunnah/mandub, mubah wenang, makruh dan haram. Syariah memberi batasan-batasan terhadap akhlaq sehingga praktik akhlaq tersebut berada didalam kerangka aturan yang benar tentang benar dan salahnya suatu amal perbuatan ibadah. Jadi, jelas bahwa akhlaq tidak boleh lepas dari batasan dan kendali syariat. Syariat menjadi bingkai dan praktik akhlaq, atau aturan yang mengatasi dan mengendalikan akhlaq. Praktek akhlaq tidak melebihi apalagi mengatasi syariah, tetapi akhlaq harus lahir sebagai penguat dan penyempurna terhadap pelaksanaan syari’at. Sedangkan akhlaq yang tidak menjadi penyempurna pelaksanaan syariat adalah perbuatan batal. Jadi, kedudukan akhlaq adalah sebagai penguat dan penyempurna proses ibadah seseorang. Dengan demikian, syariah berfungsi sebagai jalan yang akan menghantarkan seseorang kepada kesempurnaan akhlaq. Sedangkan akhlaq adalah nilai-nilai keutamaan yang bisa menghantarkan seseorang menuju tercapainya kesempurnaan keyakinan. Bisa terjadi suatu pelaksanaan kewajiban menjadi gugur nilainya karena tidak disertai dengan akhlaq. Seperti kasus orang yang ber infak di jalan Allah tetapi ketika dalam menyerahkan hartanya dilakukan sambil berkata-kata yang tidak baik, maka infak orang tersebut disisi Allah tidak bernilai sedikitpun karena terhapus oleh akhlaknya yang buruk. Meskipun dari segi aturan syariat ia telah melakukan kewajibannya dengan benar, tetapi secara nilai, ia diterima sebagai amal ibadah di sisi Allah swt. Tetapi bukan berarti setiap pelaksanaan syariat yang tidak dilakukan dengan akhlaq yang baik akan menggugurkan nilai ibadah seseorang disisi Allah. Dalam kasus orang shalat tidak tepat waktu , tidak menjadi gugur nilai shalatnya, tetapi hanya mengurangi keutamaannya saja, atau mengurangi kekusyuan orang yang dibelakang shofnya karena terganggu oleh gambar pada bajunya. Tetapi itu tidak menggugurkan kewajiban shalatnya. Ketetapan syariah adalah ketetapan hukum yang bersifat mutlak dan harus wajib ditaati, sedangkan akhlaq adalah nilai-nilai keutamaan yang akan menyempurnakan dan memperkuat pelaksanaan dan penegakan syari’at tersebut. Jika dalam pelaksanaan syariat mesti sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat itu sendiri, maka akhlak tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan tersebut. Meskipun bersifat keutamaan dan penyempurnaan dalam melaksanakan syariat, ini tidak berarti setiap ummat dapat melakukan atau tidak melakukannya. Karena seperti telah diterangkan diatas, bahawa akhlaq adalah perwujudan dari prose amal ibadah, sehingga seseorang ummat dapat meningkatkan kualitas iman dan amal ibadahnya dengan akhlaq tersebut. Selain itu antara syariat dan akhlaq dapat dibedakan dari bentuk dan jenis sanksi yang diberikan kepada pelanggar atau mereka yang tidak menjalaninya. Sanksi bagi pelanggar syariat adalah sesuatu yang jelas dan tegas sesuai dengan ketentuan dan ketetapan yang tertuang dalam syariat itu sendiri, dan semua ketetapan yang tertuang dalam syariat itu sendiri, dan semua ketetapan sanksi itu diputuskan oleh lembaga yang berwenang lembaga ulil amri. Sedangkan bagi yang tidak melakukan akhlak hasanah, tidak ada sanksi yang ditetapkan oleh syariat sanksi terhadap pelanggaran akhlak tidak ditetapkan oleh lembaga yang berwenang, tetapi sanksi ini bisa diberikan baik oleh dirinya sendiri atau oleh lingkungan sosial dan masyarakatnya. Misalnya seorang yang menjalankan perintah puasa saum ramadhan tetapi suka menggunjing dan menyakiti orang lain, berbohong, tidak menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan keji, ia tetap tidak bisa dikenai sanksi hukum atas perbuatan-perbuatannya tersebut, tetapi hal itu akan mengurangi ganjaran keutamaan dalam puasanya, disamping itu akan mendapat sanksi oleh dirinya sendiri atau lingkungan sekitarnya, sepertirasa penyesalan diri, gunjingan dari sesama, dikucilkan dari pergaulan, dan lain-lain. BAB III PENUTUP Kesimpulan .Devenisi Aqidah menurut bahasa Arab etimologi berasal dari kata al-aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, dan ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan menurut istilah terminologi aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Devenisi syariah Secara etimologi syariah berarti aturan atau ketetapan yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, seperti puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh kebajikan. Syariat dalam istilah syar’i adalah hukum-hukum Allah yang disyariatkan kepada hamba-hamba-Nya, baik hukum-hukum dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi Saw dari perkataan, perbuatan dan penetapan. Devenisi akhlaq Akhlaq berasal dari bahasa arab, yaitu jama’ dari kata “khuluq” خلوق secara bahasa kata ini memiliki arti perangai atau yang mencakup diantaranya sikap, prilaku, sopan, tabi’at, etika, karakter, kepribadian, moral dll. Menurut istilah, akhlak artinya tingkah laku lahiriah yang diperbuat oleh seseorang secara spontan sebagai manifestasi atau pencerminan, refleksi dari jiwa , batin atau hati seseorang. Sebagai bentuk perwujudan iman Aqidah, akhlaq mesti berada dalam bingkai aturan syari’ah Islam. Karena seperti dijelaskan diatas, akhlaq adalah bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan proses ibadah harus dilakukan sesuai dengan aturan mekanisme yang ditetapkan syariah, agar bernilai sebagai amal shalih. Syariah merupakan aturan mekanisme dalam amal ibadah seseorang mukmin/muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Melalui prantara syariah akan menghubungkan proses ibadah kita kepada Allah. Suatu amal diluar aturan mekanisme ibadah tidak bernilai sebagai amal shalih. Dan akhlaq menjadi sia-sia jika tidak berada didalam kerangka aturan syariah. Jadi, syaria adalah syarat yang akan menentukan bernilai tidaknya suatu amal ibadah. Kaitan antara aqidah, syariat dan Menurut Syekh Mahmud Syaltut ketika menjelaskan tentang kedudukan akidah dan syariah menulis Akidah itu di dalam posisinya menurut Islam adalah pokok yang kemudian di atasnya dibangun syariat. Sedang syariat itu sendiri adalah hasil yang dilahirkan oleh akidah tersebut. Dengan demikian tidaklah akan terdapat syariat di dalam Islam, melainkan karena adanya akidah; sebagaimana syariat tidak akan berkembang, melainkan di bawah naungan akidah. Jelaslah bahwa syariat tanpa akidah laksana gedung tanpa fondasi. Akidah tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat berlindung di saat kepanasan dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik. Sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya merupakan layang-layang bagi benda yang tidak tetap, yang selalu bergerak. Saran Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan, baik dalam bahasanya, materi dan penyusunannya. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat membangun penulisan makalah ini. DAFTAR PUSTAKA As, Asmaran, Pengantar Studi Akhlak. Jakarta PT Raja Grafindo Persada,2002. Syaltut,Mahmud, Islam Aqidah wa Syariah, I, Kairo Dar al-Kalam, 1966. Hamka, Iman dan Amal Shaleh. Jakarta Pustaka Panjimas, 1982. al_Gazali,Muhammad, Khuluk al-Muslim, Kuwait Dar al Bayan, 1970. al_Gazali,Muhammad, Al Aqidah Islam, Kuwait Dar al Bayan,1970. Al-Maududi, Abdul, Towards Undestanding Islam, Jeddah One Seeking Mercy of Allah Ash Shiddieqy,Hasbi, Al Islam I, Jakarta Bulan Bintang 1977. [1] Harun nasution et,al., ensiklopedi islam Indonesia Jakarta Djambatan, 1992 hal. 98. [2]Mahmud syaltud, opcid.,hal. 23-24. [3]Masyfuk zuhdi, opcit., hal. 6.
Menyoal masalah aqidah, tidak akan pernah ada pupusnya. Terlebih ketika masyarakat banyak diracuni dengan pemikiran liberal yang secara terang-terangan mengayomi situs klenik dan itu, ada baiknya kita mereview ulang beberapa artikel penting tentang aqidah yang mungkin sudah anda lupakan. {slide=1. Bolehkah Percaya kepada Tradisi?closed} Sebagian orang beranggapan, sebagai seorang muslim, kita tidak boleh percaya pada tradisi. Tapi tahukah anda, ternyata ada tradisi yang boleh diyakini dan dipraktekkan dalam islam. Pertanyaan Assalamu alaikum. Saya mau tanya bagaimana hukumnya percaya kepada tradisi? Contoh Seorang wanita belum boleh menikah jika kakak perempuan dari wanita itu belum menikah. Mereka beranggapan bahwa ini sudah turun-menurun, tidak bisa dilanggar. Bagaimana menurut pandangan ahlus sunnah? Syukran terima kasih. Wassalamu alaikum. Satrio rhiop******.comJawaban Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah. Sesungguhnya, tradisi di masyarakat kita dapat dikelompokkan menjadi tiga1. Tradisi yang sesuai dengan syariat, seperti silaturahmi, menjenguk orang sakit, kerja bakti, dan Tradisi yang bertolak belakang dengan syariat. Semua tradisi yang mengandung kemaksiatan termasuk dalam tradisi ini, berupa Kesyirikan, seperti sedekah bumi dan sesajen. Perbuatan dosa, seperti hiburan maksiat dan peringatan kematian. Kezaliman kepada orang lain, seperti larangan menikah karena tabrakan weton. 3. Tradisi yang didiamkan syariat mubah, seperti jual beli dan arisan. Tradisi jenis ketiga ini diperbolehkan, selama tidak mengandung unsur yang diharamkan syariat. Jika kita cermati tiga tradisi di atas, tradisi yang disebutkan oleh Penanya termasuk tradisi yang mengandung kezaliman. Siapa pun yang lebih dahulu mendapatkan jodoh, dia dianjurkan untuk segera menikah. Karena itu, tradisi ini wajib ditinggalkan. Allahu a’lam. {/slide} {slide=2. Bolehkah Mencintai Orang Kafir?closed} Kita dilarang untuk menjadikan orang kafir sebagai wali. Sebagai konsekuensinya, kita dilarang untuk mencitai orang kafir. Wah.. bagaimana dengan lelaki yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan wanita non-muslim atau bahkan sudah menikah? Pertanyaan Assalamu alaikum. Saya mau bertanya tentang kasih sayang. Saya seorang cowok muslim yang mencintai seorang cewek nasrani. Mencintai berarti memberi; apakah hal ini yaitu tindakan saya memberi padanya, ed. akan menyebabkan saya berdosa kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Makruz Sahlan makruze.******.com Jawaban Perlu dibedakan antara cinta tabi’i dan cinta syar’i. Mencintai seorang orang kafir karena agamanya atau karena dia membenci Islam merupakan bentuk cinta kepada kekafiran. Ini yang disebut cinta syar’i. Adapun mencintai orang kafir karena itu adalah bagian dari tabiat kita, seperti mencintai orang tua nonmuslim atau istri yang nasrani, maka ini adalah cinta yang diperbolehkan. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat mencintai pamannya Abu Thalib karena jasa besar Abu Thalib bagi dakwah beliau shallallahu alaihi wa sallam, meskipun Abu Thalib adalah orang kafir, sampai dia mati. Akan tetapi, jika cinta tabi’i ini menyebabkan orang yang mencintai itu berbuat maksiat, lebih-lebih lagi jika menyebabkan orangnya keluar dari Islam, maka hukumnya terlarang. Jawaban di atas bukanlah menyarankan Anda untuk menikah dengan orang Nasrani. Kami lebih menyarankan Anda untuk tidak menikah dengan wanita nonmuslim karena beberapa alasan Apa pun kondisinya, wanita muslimah jauh lebih baik dibandingkan wanita nonmuslim. Allah berfirman, yang artinya, “Budak mukminah itu lebih baik daripada wanita merdeka nonmuslim, meskipun dia membuatmu terpesona.” QS. Al-Baqarah221 Menikah dengan wanita kafir akan menambah tanggung jawab Anda terhadap keluarga Anda, sementara suami harus mendidik istri dan anak-anaknya. Dengan demikian, akan sangat sulit bagi Anda untuk mengajari istri tentang adab-adab dalam Islam. Dikhawatirkan, sang istri bisa mempengaruhi anak Anda, sehingga sang istri akan mengajak anak Anda untuk memeluk agama nasrani, atau bahkan–dengan terang-terangan–membuat perjanjian jika anak lelaki maka dia ikut bapak dan jika anak perempuan maka dia ikut ibu. Jika sang bapak membiarkan hal semacam ini terjadi, berarti dia telah menjerumuskan anaknya ke neraka. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Amin. Allahu a’lam. {/slide} {slide=3. Nasab Ana yang Berbeda Akidah dengan Orang Tuanyaclosed} Karena bencinya kepada orang kafir, seorang anak tidak mau dinasabkan kepada ayahnya non-muslim. Bagaimana hukum sejatinya? Pertanyaan Assalamu alaikum, Ustadz/Ustadzah. Saya mau tanya jika seorang anak berbeda akidahnya dengan kedua orang tuanya si anak mualaf maka nasab anak tersebut mengikuti siapa? Jazakallahu khairan. Ummu Annadzif gwndahdw*******.com Jawaban Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Jika anak dan bapak berbeda agama, anaknya tetap dinasabkan kepada bapaknya karena bagaimana pun juga dia adalah anaknya, meskipun bapaknya kafir. Dalilnya banyak sekali, di antaranya Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dinasabkan kepada bapak beliau, Abdullah; Muhammad bin Abdillah. Padahal, Abdullah mati dalam keadaan kafir. Ali dinasabkan kepada bapaknya, Abu Thalib; Ali bin Abi Thalib. Padahal, Abu Thalib mati dalam keadaan kafir. Anas dinasabkan kepada bapaknya Malik; Anas bin Malik. Padahal, Malik mati dalam keadaan kafir. Masih banyak lagi dalil lainnya. {/slide} {slide=4. Cara Shalawat yang Benarclosed} Saat ini marak tersebar bacaan shalawat yang tidak ada dalilnya. Artikel berikut menjelaskan kapan seseorang disyariatkan membaca shalawat, tata cara shalawat yang benar, dan bacaan shalawat yang benar. Pertanyaan Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh, Ustadz. Terdapat bunyi hadis yang kurang lebih seperti berikut 1. Termasuk orang yang kikir, yaitu jika disebutkan namaku, ia tidak bersalawat untukku. 2. Jika engkau bersalawat kepadaku sekali maka engkau mendapatkan 10 kali lipatnya. Mohon dikoreksi jika saya salah. 3. Bersalawat 10 kali pada pagi hari dan 10 kali pada petang hari, maka ia berhak mendapatkan syafaatku di akhirat. Ustadz, nama nabi yang manakah yang jika nama tersebut dibacakan oleh seseorang maka kita harus bersalawat? Bagaimana cara bersalawatnya? Bagaimana lafal bacaan salawat yang paling singkat dan yang paling sempurna? Jazakumullahu khairan katsira semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak. Herbono Utomo. Jawaban Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Pertama Nama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang ketika nama tersebut disebut maka kita dianjurkan untuk membaca salawat, adalah semua nama dan gelar beliau, termasuk kun-yah beliau nama lain yang diawali dengan “Abu” atau “Ummu”. Seperti Nabi, Rasul, Rasulullah, Muhammad, Abul Qasim kun-yah beliau, Nabiyullah, atau yang lainnya. Kedua Cara salawat yang benar adalah dengan mengikuti cara Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Namun, ada beberapa keadaan yang menyebabkan bersalawat menjadi wajib atau sunnah, di antaranya a. Ketika tasyahud akhir wajib untuk bersalawat. b. Ketika dalam majelis berkumpulnya beberapa orang untuk mengobrol wajib untuk bersalawat, menurut sebagian ulama. c. Ketika hari Jumat dianjurkan memperbanyak salawat. d. Seusai mendengar azan dianjurkan untuk bersalawat. e. Ketika berdoa dianjurkan untuk mengawalinya atau mengakhirinya dengan salawat. Ketiga Lafal salawat, yang paling ringkas dan sesuai sunnah, disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Dari Ka’ab bin Ujrah radhiallahu anhu, bahwa para sahabat pernah bertanya, Wahai Rasulullah, kami telah memahami tata cara memberi salam kepada Anda, lalu bagaimana cara memberi salawat kepada Anda?’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Ucapkanlah, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ’” Keterangan a. Salawat ini disebut dengan “salawat ibrahimiyah”. b. Ini adalah salawat terbaik karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mengajarkannya sendiri kepada para sahabat. Allahu a’lam. {/slide} {slide=5. Tempat Roh Setelah Kematianclosed} Ternyata roh manusia tidak berada di satu tempat. Sebagian ulama menjelaskan ada 5 keadaan roh setelah kematian Pertanyaan Assalamu’ alaikum. Di mana roh ditempatkan setelah mati, apakah di langit, di surga dan neraka? Apakah ada di sekeliling kita? Apakah ia mempunyai hubungan dengan jasad yang ditanam di bumi? Makruz Sahlan makruze.********.com Jawaban Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah, wash-shalatu wassalamu ala Rasulillah. Pertama, kami ingatkan agar kita tidak disibukkan dengan pertanyaan yang “kurang bermanfaat” dalam kehidupan kita sehari-hari, karena ilmu semacam ini, baik kita ketahui maupun tidak kita ketahui, tidak memberikan banyak pengaruh bagi ibadah maupun amal kita. Salah satunya adalah pertanyaan tentang roh. Jika kita mengetahui keberadaan roh–apakah di jasad, di langit, atau di bumi–apakah kemudian kita akan menjadi semakin rajin beribadah, atau kita menjadi semakin takut kepada Allah? Jika yang ditanyakan “Apakah roh orang yang zalim juga disiksa?”, mungkin bisa kita katakan bahwa pertanyaan tersebut termasuk pertanyaan yang wajar karena, boleh jadi, jawaban atas pertanyaan tersebut bisa menambah ketakwaan kita. Namun, tentunya tidak bermanfaat jika pertanyaan tentang keberadaan roh ini terkait dengan pemahaman yang salah di masyarakat. Oleh karena itu, Allah mencela sikap orang Yahudi yang bertanya tentang roh, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Isra`, ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah “Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” Kedua, dari penjelasan di atas, bukan berarti bahwa para ulama tidak membahas masalah tempat roh setelah orangnya meninggal. Syeikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan posisi roh setelah terpisah dari jasad dalam buku Al-Yaumul Akhir, hlm. 102, dengan rincian sebagai berikut a. Roh para nabi. Roh mereka berada di tempat tertinggi, bersama para malaikat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, pada detik-detik wafatnya, mengatakan, “Ar-Rafiiqul a’la kumpulkanlah aku bersama sahabat terbaik yang berada di atas.” b. Roh para syuhada. Roh mereka berada di tembolok burung-burung hijau di surga. Burung ini memiliki sarang yang menggantung di bawah Arsy, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat muslim. c. Roh orang mukmin yang saleh. Roh mereka berada di tembolok burung bukan burung berwarna hijau yang bergelantungan di pohon-pohon surga, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad yang dinilai sahih oleh Al-Albani. d. Roh ahli maksiat orang yang gemar bermaksiat. Roh mereka berada di tempat mereka mendapat siksaan. - Roh pezina berada di suatu lubang seperti tanur; bagian atasnya sempit, dan bagian bawahnya longgar. Dari bawah tanur ini dinyalakan api, kemudian mereka berlomba-lomba berebut naik ke atas. - Roh orang yang makan hasil riba berada di sungai darah; dia berenang, berusaha menepi. Ketika hampir sampai ke tepi, dia dilempari batu, kemudian dia berbalik lagi ke tengah. - Roh tukang bohong akan digantung, kemudian mulutnya dirobek sampai ke tengkuk. Semua ini disebutkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Bukhari. e. Roh orang kafir. Roh mereka disiksa di alam kubur, dengan siksaan yang pedih. Dia dipukul dengan gadha oleh sosok makhluk yang buta lagi tuli. Andaikan gadha itu dipukulkan ke gunung, niscaya gunung tersebut akan menjadi tanah. Ini, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat An-Nasa’i. Allahu a’lam. {/slide} {slide=6. Mengubur Baju Agar Suami Betah di Rumahclosed} Karena cintanya, seorang istri hendak mengubur baju suaminya di rumahnya. Tapi tahukah anda, perbuatan semacam ini bisa jadi termasuk kesyirikan. Pertanyaan Saudara saya, seorang perempuan, telah menikah. Lalu, ada orang dari pihak suaminya yang menyuruh agar dia mengubur baju supaya suaminya betah di rumah. Pertanyaannya adalah 1. Apakah hukum dari mengubur baju itu? 2. Apakah itu hanya sebuah siasat pelet? Hidayat badaxxx Jawaban Bismillah. Bapak Hidayat yang kami hormati, semoga Allah membimbing kita ke jalan yang lurus. Selanjutnya, ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan terkait masalah semacam ini. Pertama Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan, “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan pada hakikatnya itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.” Kedua “Sebab” itu ada dua macam Sebab syar’i, yaitu ketetapan bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan Sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh Ruqyah pengobatan dengan membaca Alquran bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah. Sebab kauni sunnatullah, adalah ketetapan bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan hasil penelitian ilmiah. Misalnya Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam. Ketiga Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syar’i maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk syirik kecil. Keempat Terkait dengan kasus yang Bapak sampaikan. Mengubur baju diyakini sebagai sebab agar sang suami betah di rumah. Mari kita tinjau dengan dua premis di atas Apakah ada dalil bahwa “mengubur baju diyakini merupakan sebab betah di rumah?” Jawabannya Tidak ada dalilnya. Berarti, tindakan mengubur baju bukan sebab syar’i. Apakah ada penelitian ilmiah yang menjelaskn bahwa “mengubur baju merupakan sebab orangnya betah di rumah?” Saya yakin, tidak ada satupun penelitian yang menyatakan hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa sikap itu bukan sebab kauni. Mengingat kasus ini tidak memenuhi dua kriteria di atas maka dapat dsimpulkan bahwa mengubur baju BUKANLAH SEBAB agar orang betah di rumah. Dengan demikian, meyakini bahwa “mengubur baju merupakan sebab orangnya betah di rumah” adalah keyakinan yang tidak benar, bahkan bisa termasuk syirik kecil. Allahu a’lam.{/slide} {slide=7. Hikmah Membunuh Cecakclosed} Diantara sunah Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah membunuh cicak. Ada apa dengan cicak? Apa hikmah dibalik anjuran membunuh cicak? Pertanyaan Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, Saya belum memahami hikmah perintah membunuh cicak jika membaca riwayat berikut Diriwayatkan dari Imam Ahmad, “Bahwasanya ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api maka mulailah semua hewan melata berusaha memadamkannya, kecuali cicak, karena sesungguhnya cicak itu mengembus-embus api yang membakar Ibrahim.” Imam Ahmad, 6217 Cicak yang mengembus agar api semakin membesar terjadi pada masa Nabi Ibrahim. Apakah cicak termasuk hewan terkutuk sehingga ia tetap harus dibunuh hingga akhir zaman? Bukankah cicak mengurangi populasi nyamuk? Jazakumullah khairan katsira semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak. Jawaban Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah …. Pertama Terdapat banyak dalil yang memerintahkan kita untuk membunuh cicak, di antaranya Dari Ummu Syarik radhiallahu anha; Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau menyatakan, “Dahulu, cicak yang meniup dan memperbesar api yang membakar Ibrahim.” HR. Muttafaq alaih. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu; Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang membunuh cicak dengan sekali bantingan maka ia mendapat pahala sekian. Siapa saja yang membunuhnya dengan dua kali bantingan maka ia mendapat pahala sekian kurang dari yang pertama, ….” HR. Muslim. Dalam riwayat Muslim; dari Sa’ad, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak, dan beliau menyebut cicak sebagai hewan fasiq pengganggu. Semua riwayat di atas menunjukkan bahwa membunuh cicak hukumnya sunnah, tanpa pengecualian. Kedua Sikap yang tepat dalam memahami perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah sikap “sami’na wa atha’na” tunduk dan patuh sepenuhnya dengan berusaha mengamalkan sebisanya. Demikianlah yang dicontohkan oleh para sahabat radhiallahu anhum, padahal mereka adalah manusia yang jauh lebih bertakwa dan lebih berkasih sayang terhadap binatang, daripada kita. Di antara bagian dari sikap tunduk dan patuh sepenuhnya adalah menerima setiap perintah tanpa menanyakan hikmahnya. Dalam riwayat-riwayat di atas, tidak kita jumpai pertanyaan sahabat tentang hikmah diperintahkannya membunuh cicak. Mereka juga tidak mempertanyakan status cicak zaman Ibrahim jika dibandingkan dengan cicak sekarang. Jika dibandingkan antara mereka dengan kita, siapakah yang lebih menyayangi binatang? Ketiga Penjelasan di atas tidaklah menunjukkan bahwa perintah membunuh cicak tersebut tidak ada hikmahnya. Semua perintah dan larangan Allah ada hikmahnya. Hanya saja, ada hikmah yang zahir, sehingga bisa diketahui banyak orang, dan ada hikmah yang tidak diketahui banyak orang. Adapun terkait hikmah membunuh cicak, disebutkan oleh beberapa ulama sebagai berikut Imam An-Nawawi menjelaskan, “Para ulama sepakat bahwa cicak termasuk hewan kecil yang mengganggu.” Syarh Shahih Muslim, 14236 Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat yang jelek, sementara dulu, dia meniup api Ibrahim sehingga api itu menjadi besar.” Faidhul Qadir, 6193 Keempat Hikmah yang disebutkan di atas, hanya sebatas untuk semakin memotivasi kita dalam beramal, bukan sebagai dasar beramal, karena dasar kita beramal adalah perintah yang ada pada dalil dan bukan hikmah perintah tersebut. Baik kita tahu hikmahnya maupun tidak. Kelima Segala sesuatu memiliki manfaat dan madarat. Kita–yang pandangannya terbatas– akan menganggap bahwa cicak memiliki beberapa manfaat yang lebih besar daripada madaratnya. Namun bagi Allah–Dzat yang pandangan-Nya sempurna–hal tersebut menjadi lain. Allah menganggap madarat cicak lebih besar dibandingkan manfaatnya. Karena itu, Allah memerintahkan untuk membunuhnya. Siapa yang bisa dijadikan acuan pandangan manusia yang serba kurang dan terbatas ataukah pandangan Allah yang sempurna? Keenam Manakah yang lebih penting, antara mengamalkan perintah syariat atau melestarikan hewan namun tidak sesuai dengan perintah syariat? Orang yang kenal agama akan mengatakan, “Mengamalkan perintah syariat itu lebih penting. Jangankan, hanya sebatas cicak, bila perlu, harta, tenaga, dan jiwa kita korbankan demi melaksanakan perintah jihad, meskipun itu adalah jihad yang sunnah.” Semoga perenungan ini bisa menjadi acuan bagi kita untuk tunduk dan patuh pada aturan syariat Allah. Allahu a’lam. {/slide} Kumupulan artikel dari
YOGYAKARTA — Dalam agama Islam, syariah, akidah, dan akhlah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Syariah seringkali berkaitan dengan persoalan-persoalan amaliyah praktis. Akidah menyangkut persoalan-persoalan non-amaliyah tetapi bekerja dalam hati setiap jiwa. Sementara akhlak bertautan dengan perilaku budi dalam kehidupan sehari-hari baik kepada Allah maupun kepada manusia. “Dari ketiga ini, syariah itu relatif sering disebut dengan islam. kemudian akidah disebut dengan iman. Dan akhlak seringkali disebut dimensi ihsan. Ini persis dengan hadis Jibril ketika datang menyampaikan wahyu kepada Rasulullah,” terang Faturrahman Kamal dalam acara Baitul Arqom UAD 2021 pada Senin 8/2. Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini kemudian menerangkan tentang akidah. Menurutnya, akidah adalah akad atau ikatan yang dipegang teguh dan terhunjam kuat di dalam lubuk hati sebagai ketetapan yang penuh keyakinan dengan tanpa keraguan kepada Allah dan tidak dapat beralih dari pada-Nya. “Seseorang untuk menyatakan kebenaran atas apa yang ia ucapkan, maka seringkali dia harus menyampaikan sumpah secara verbal. Kata akidah berasal dari akad yang berarti perjanjian dengan sangat kuat, bahkan dilengkapi dengan kata sumpah,” terang Kamal. Dimensi akidah pada diri seseorang harus diperkuat dengan amalan-amalan ibadah seperti salat, zakat, puasa, dan lain sebagainya. Tidak cukup melaksanakan amalan wajib sehari-hari, perilaku seorang muslim juga harus berbudi pekerti, berakhlak mulia, dan tidak melakukan dosa-dosa. “Ini adalah hubungan yang luarbiasa, keimanan kita kepada Allah yang termanifestasi di dalam kehidupan dan lingkungan kita,” ujar dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini. Dengan demikian, kata Kamal, Islam merupakan agama paripurna. Di dalamnya, memuat pengaturan hubungan vertikal yaitu manusia dan Allah dan horizontal yaitu sesama manusia dan alam secara sistematis. Kamal berharap peserta Darul Arqam ini menjadi seorang muslim sampai tingkat ihsan. Hits 597
pertanyaan tentang aqidah syariah dan akhlak